Dari Kearifan Bugis untuk Dunia: Ketika Nilai Leluhur Menjawab Tantangan SDGs
Direktur Taman Semesta, Adnan Achiruddin Saleh, kembali memperkuat kontribusinya dalam pengembangan kajian pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Bersama Saidin Hamzah, Suparman Abdullah, Mansyur Radjab, dan Rahmat Muhammad, ia berhasil menerbitkan hasil penelitian berjudul “Integrating Bugis Local Wisdom with Social Pillars of Sustainable Development: A Model for Aligning Cultural Practices” dalam Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities (PJSSH) yang diterbitkan oleh Universiti Putra Malaysia (UPM).
Artikel tersebut diterbitkan pada Volume 34, Issue 2, April 2026 dan secara resmi terbit pada 30 April 2026. Artikel ini tercatat dengan Article ID JSSH-9242-2024 dan DOI 10.47836/pjssh.34.2.19.
Publikasi ini menjadi capaian penting karena penelitian tidak hanya mendokumentasikan kearifan lokal Bugis, tetapi juga berupaya menjelaskan bagaimana nilai-nilai budaya tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Menghubungkan Kearifan Lokal Bugis dengan SDGs
Penelitian ini secara khusus mengkaji hubungan antara kearifan lokal Bugis dengan tujuan sosial pembangunan berkelanjutan, terutama SDGs 1 sampai 5, yang mencakup pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, serta kesetaraan gender.
Penelitian menunjukkan bahwa sejumlah nilai yang hidup dalam kebudayaan Bugis memiliki relevansi kuat dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Nilai-nilai seperti integritas kepemimpinan, tanggung jawab terhadap komunitas, keadilan, pengambilan keputusan bersama, ketahanan masyarakat, serta kepemimpinan yang inklusif dapat menjadi modal sosial dan budaya dalam mendukung pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak harus selalu dimulai dari konsep-konsep yang datang dari luar komunitas. Masyarakat lokal sesungguhnya telah memiliki seperangkat nilai, norma, dan praktik sosial yang dapat menjadi sumber daya penting dalam mencapai tujuan pembangunan.
Pangngajak Tomatoa sebagai Sumber Pengetahuan Lokal
Salah satu kekuatan utama penelitian ini terletak pada penggunaan Pangngajak Tomatoa, yaitu khazanah pengetahuan tradisional Bugis yang memuat nasihat dan pandangan para orang tua terdahulu, sebagai salah satu sumber utama dalam mengidentifikasi nilai-nilai yang relevan dengan pembangunan berkelanjutan.
Penelitian juga dilengkapi dengan wawancara terhadap tokoh-tokoh budaya di Sulawesi Selatan. Melalui pendekatan tersebut, penelitian berupaya tidak hanya membaca teks tradisional, tetapi juga memahami bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dan dimaknai dalam masyarakat.
Hasil penelitian kemudian digunakan untuk membangun sebuah model integrasi kearifan lokal dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Model tersebut menawarkan pendekatan yang menempatkan budaya lokal bukan sekadar sebagai objek pelestarian, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat digunakan dalam merancang pembangunan yang sesuai dengan konteks masyarakat.
Dari Nilai Budaya Menuju Model Pembangunan
Temuan penelitian memperlihatkan bahwa kearifan lokal Bugis memiliki potensi untuk memberikan pendekatan pembangunan yang lebih kontekstual. Prinsip keadilan, tanggung jawab sosial, musyawarah, ketahanan komunitas, serta kepemimpinan yang inklusif dapat menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya dan berkelanjutan.
Perspektif tersebut penting karena agenda SDGs pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai indikator dan target pembangunan, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat dapat menjadi aktor utama dalam mencapai perubahan sosial.
Dalam konteks ini, budaya lokal dapat berfungsi sebagai jembatan antara agenda global dan realitas masyarakat lokal.
Penelitian tersebut juga menekankan bahwa pendekatan pembangunan yang berbasis kearifan lokal memiliki peluang untuk menghasilkan intervensi yang lebih bermakna karena dibangun dari nilai dan praktik yang telah dikenal oleh masyarakat sendiri.
Memperkuat Agenda Akademik Taman Semesta
Bagi Taman Semesta, publikasi ini memiliki arti strategis karena memperkuat komitmen lembaga dalam mengembangkan pengetahuan yang menghubungkan kebudayaan, masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.
Taman Semesta memandang bahwa kearifan lokal tidak semestinya berhenti sebagai warisan masa lalu. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat terus diteliti, dikontekstualisasikan, dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang relevan untuk menjawab persoalan masyarakat kontemporer.
Publikasi penelitian Adnan Achiruddin Saleh dan tim di Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman dan pengetahuan lokal masyarakat Bugis memiliki ruang dalam percakapan akademik mengenai pembangunan berkelanjutan di tingkat internasional.
Lebih jauh, penelitian ini membuka peluang untuk mengembangkan kajian lanjutan mengenai bagaimana berbagai nilai dalam kebudayaan Bugis dapat dipetakan dengan target-target SDGs lainnya, sekaligus diuji penerapannya dalam berbagai konteks masyarakat.
Menempatkan Kearifan Lokal dalam Percakapan Global
Publikasi di jurnal Universiti Putra Malaysia ini menjadi salah satu langkah untuk membawa kajian kearifan lokal Bugis ke ruang akademik yang lebih luas. Penelitian tersebut tidak sekadar bertanya tentang apa yang diwariskan oleh leluhur, tetapi juga tentang bagaimana warisan tersebut dapat digunakan untuk menjawab tantangan pembangunan masa kini.
Bagi Taman Semesta, pertanyaan tersebut menjadi penting. Sebab, pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya tentang membangun masa depan, tetapi juga tentang menemukan kembali pengetahuan yang telah dimiliki masyarakat dan menggunakannya secara kreatif untuk membangun masa depan tersebut.
Artikel “Integrating Bugis Local Wisdom with Social Pillars of Sustainable Development: A Model for Aligning Cultural Practices” dapat diakses melalui laman resmi Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities, Universiti Putra Malaysia.