Bukan Sekadar Penutup Kepala, Songko’ Recca Ternyata Punya Kekuatan Mengatur Perilaku Sosial
Direktur Taman Semesta, Adnan Achiruddin Saleh, berhasil menerbitkan hasil penelitian mengenai makna sosial dan psikososial songko’ recca dalam kehidupan masyarakat Bugis. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Journal of Society Counseling Volume 4 Nomor 1 Tahun 2026 melalui artikel berjudul “Internalisasi Nilai dan Kontrol Sosial Berbasis Simbol dalam Praktik Songko’ Recca Bugis.”
Artikel yang terbit pada 18 Mei 2026 tersebut ditulis bersama Nurul Fajriani, Nur Syafhirah Syam Jayadi, M. Alfatir, dan Runik Machfiroh dari Telkom University. Artikel ini diterbitkan pada halaman 100–113 dan memiliki DOI 10.59388/josc.v4i1.855.
Penelitian ini berangkat dari perhatian terhadap songko’ recca sebagai salah satu simbol budaya yang memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Bugis. Selama ini, songko’ recca umumnya dipahami sebagai bagian dari identitas budaya dan busana tradisional masyarakat Bugis. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa makna songko’ recca jauh lebih luas karena berkaitan dengan proses pembentukan kesadaran nilai dan pengaturan perilaku dalam kehidupan sosial.
Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi visual. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami bagaimana simbol budaya bekerja dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana masyarakat memberikan makna terhadap penggunaan songko’ recca.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa songko’ recca tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya atau simbol keagamaan. Penggunaan dan pemaknaan simbol tersebut secara berulang dalam kehidupan sosial dapat menjadi media internalisasi nilai sosial dan keagamaan ke dalam kesadaran individu.
Proses tersebut kemudian mendorong terbentuknya pengaturan diri (self-regulation), sehingga individu terdorong untuk menyesuaikan perilakunya dengan norma dan harapan yang berlaku di lingkungan sosialnya. Dengan demikian, simbol budaya dapat bekerja bukan hanya pada tingkat penampilan atau identitas, tetapi juga pada pembentukan kesadaran dan perilaku.
Penelitian ini juga menemukan bahwa songko’ recca dapat menjalankan fungsi kontrol sosial informal. Kehadiran simbol tersebut dalam interaksi sosial membangun ekspektasi mengenai perilaku yang dianggap sesuai, menghadirkan pengawasan simbolik, serta memungkinkan munculnya penilaian kolektif terhadap perilaku seseorang.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kontrol sosial dalam masyarakat tidak selalu hadir melalui aturan tertulis maupun sanksi formal. Dalam konteks tertentu, simbol budaya yang telah memiliki makna bersama dapat menjadi bagian dari mekanisme sosial yang membantu masyarakat mempertahankan nilai dan norma yang mereka anggap penting.
Secara teoritis, penelitian ini mempertemukan perspektif interaksionisme simbolik, internalisasi nilai, dan kontrol sosial untuk menjelaskan bagaimana simbol budaya dapat berperan sebagai agen aktif dalam kehidupan sosial. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa praktik budaya yang hidup dalam masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk memahami proses pembentukan perilaku dan kesadaran sosial.
Menariknya, penelitian ini memiliki relevansi langsung dengan pengembangan konseling masyarakat dan konseling lintas budaya. Nilai-nilai yang melekat pada simbol budaya dapat menjadi sumber penting dalam membangun pendekatan konseling yang lebih kontekstual, khususnya ketika intervensi sosial dan psikologis berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang kuat.
Bagi Taman Semesta, publikasi penelitian ini menjadi bagian dari upaya untuk mempertemukan pengetahuan akademik, kebudayaan lokal, dan kebutuhan masyarakat. Kajian mengenai songko’ recca menunjukkan bahwa kebudayaan lokal tidak hanya penting untuk dilestarikan sebagai warisan, tetapi juga dapat dikaji sebagai sumber pengetahuan untuk memahami perilaku manusia, relasi sosial, pendidikan nilai, dan pembangunan masyarakat.
Publikasi ini sekaligus memperkuat komitmen Taman Semesta dalam mendorong pengembangan pengetahuan yang berangkat dari konteks lokal. Kebudayaan Bugis, dengan berbagai simbol, nilai, dan praktik sosialnya, memiliki ruang yang luas untuk terus dikaji dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang relevan bagi kehidupan masyarakat masa kini.
Artikel “Internalisasi Nilai dan Kontrol Sosial Berbasis Simbol dalam Praktik Songko’ Recca Bugis” dapat diakses secara terbuka melalui laman Journal of Society Counseling.